Kategori
Regional

Merapi Berstatus Siaga, BPPTKG Minta Warga Lakukan 5 Hal

Merapi Berstatus Siaga, BPPTKG Minta Warga Lakukan 5 Hal

Merapi Berstatus Siaga, BPPTKG Minta Warga Lakukan 5 Hal – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) telah menaikkan status Gunung Merapi dari waspada menjadi siaga sejak Kamis, 5 November 2020.

Menghindari terjadinya korban luka dan meninggal dunia, BPPTKG telah mengeluarkan larangan untuk beraktivitas pada radius 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Berikut 5 hal yang harus melakukan warga saat Merapi berstatus siaga.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) telah menaikkan status Gunung Merapi dari waspada menjadi siaga sejak Kamis, 5 November 2020.

Menghindari terjadinya korban luka dan meninggal dunia, BPPTKG telah mengeluarkan larangan untuk beraktivitas pada radius 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Berikut 5 hal yang harus melakukan warga saat Merapi berstatus siaga.

1. Larangan penambangan pasir

Terlansir dari http://162.241.119.31/ .Penambangan pada sejumlah alur sungai yang berhulu Merapi dalam Kawasan Rawan Bencana III terrekomendasikan mwnghentikan.

2. Larangan kegiatan bagi pelaku wisata

Pelaku wisata meminta tidak melakukan kegiatan pada kawasan yang termasuk KRB III, termasuk kegiatan pendakian.

3. Amankan surat penting dan harta

Bagi warga yang bertempat tinggal pada daerah zona bahaya, mengharuskan mengumpulkan dan memasukkan semua surat penting ke dalam tas serta harta berharga lainnya. Hal ini bertujuan jika sewaktu-waktu harus mengungsi tidak ada surat dan barang yang tertinggal.

4. Menyiapkan tas siaga

Warga harus menyiapkan tas siaga yang pada dalamnya harus terisi pakaian, senter, obat-obatan pribadi, radio/HP/HT, makanan, minuman yang dapat makan dalam jangka waktu lama. Tas siaga ini harus meletakkan pada tempat yang mudah terjangkau.

5. Jika situasi tidak aman, segera mengungsi

Maka segera mengungsi jika terdengar suara bergemuruh hingga guguran lava yang terjadi terus menerus.

Sehingga, jumlah pengungsi pada barak pengungsian Merapi pada Kalurahan Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, semakin bertambah setiap harinya. Maka dari data terakhir Selasa (10/11/2020) malam, jumlah pengungsi mencapai 203.

Panewu Cangkringan, Suparmono, menjelaskan jika penambahan jumlah pengungsi tersebut terdominasi dari kalangan dewasa. Penambahan pengungsi tersebut terlatarbelakangi adanya kekhawatiran dari masyarakat akibat erupsi 2010 lalu. Total pengungsi dewasa berjumlah 58

Kategori
Regional

10 Tahun Erupsi Merapi, Mereka yang Mengungsi Tak Bisa Pulang ke Rumah

10 Tahun Erupsi Merapi, Mereka yang Mengungsi Tak Bisa Pulang ke Rumah

10 Tahun Erupsi Merapi, Mereka yang Mengungsi Tak Bisa Pulang ke Rumah – 10 tahun yang lalu, tepatnya hari Selasa, 26 Oktober 2010, Gunung Merapi mengalami erupsi dahsyat. Akibatnya sebanyak 367 orang meninggal dunia, 277 orang terluka dan 410.388 orang terpaksa mengungsi. Meski sudah satu dasawarsa berlalu, namun ingatan warga yang saat itu tinggal pada lereng Merapi masih kuat.

Anwar Shidqi, warga asal Srondokan, Wukirsari hingga saat ini terpaksa tetap tinggal pada Hunian Tetap (Huntap) Dongkelsari. Laki-laki berusia 44 tahun ini, masih ingat d’irinya bersama warga dusun lainnya terpaksa mengungsi dan tidak pernah kembali ke rumah. Selama setahun lamanya harus tinggal pada hunian sementara (huntara).

“Warga menetap pada Huntara selama kurang lebih 1 tahun. Setelah itu harus pindah mengungsi lagi karena hunian sementara membongkar untuk pembangunan huntap. Setelah itu 2013 Huntap sudah jadi dan warga masuk tinggal pada huntap,” ungkapnya pada Jumat (30/10/2020).

1. 3.612 KK harus terelokasi ke hunian tetap

Warga pun harus rela meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke huntap yang telah tersediakan pemerintah. Tercatat sebanyak 3.612 KK dari 9 dusun harus pindah ke tempat yang lebih aman.

Bagi Anwar tidak ada pilihan lain selain harus pindah ke huntap, walaupun sejumlah keterbatasan terrasakan warga.

Terlansirkan dari http://162.241.119.31/ .”Lambat laun karena lama tinggal  sini ya menikmati juga. Karena ya mau tidak mau kita harus tetap bisa menikmati hidup  sini, walaupun dengan segala keterbatasannya. Untuk aktivitas keseharian warga tetap seperti dulu. Kalau petani ya bertami. Kalau saya sendiri sore dan malam jualan kebetulan bikin kolam,” katanya.

2. Mengaku memiliki keterbatasan lahan

Warga Huntap Dongkelsari, Windarwati mengaku rumahnya habis tertimbun saat erupsi Gunung Merapi 2010 lalu. Untuk itu bersama keluarganya, mau tidak mau harus meninggalkan rumahnya.

Hidup pada huntap sendiri bukanlah tanpa kendala. Ada sejumlah permasalahan dan aktivitas berbeda yang melakukan warga. Salah satunya adalah warga tak bisa lagi mengadakan kegiatan besar.

“Sebenarnya kalau dulu pada tempat lama tempatnya juga luas. Antara tempat satu dengan tetangga yang lain juga cukup jauh. Sekarang rumah cukup dekat, berhimpitan. Untuk melakukan kegiatan seperti dulu, hajatan besar-besaran tidak bisa. Sekarang ini terhalang dengan situasi rumah yang sempit,” tutur perempuan berusia 57 tahun ini.

3. Setiap hari harus tempuh jarak 6 km untuk mencari rumput

Senada dengan Windarwati, seorang warga pada Huntap Pagerjurang, Raymon mengaku sempat menolak pindah dengan alasan jarak huntap dengan Merapi masih cukup dekat, yakni 9 km. Selain itu, posisi huntap tidak terlalu jauh dengan Sungai Opak yang berhulu pada Gunung Merapi.

“Pada awal ada juga isu tanah yang kami tinggali mau menjadikan hutan lindung. Sempat jadi miss (salah paham) dengan pemerintah. Mediasi yang kami lakukan ternyata (tanah kami) menjadikan hutan rakyat dan tetap menjadi hutan milik. Ya akhirnya mau tidak mau ke huntap, kami mengungsi tidak pernah kembali ke rumah,” jelasnya.

Meski sudah tinggal pada huntap, Raymon mengaku setiap hari masih mencari mencari rumput bagi ternaknya yang terletakkan pada kandang komunal huntap. Setiap hari ia harus memacu sepeda motor sejauh 6 km untuk bisa mendapatkan rumput pada sekitar rumahnya dulu.

Menurutnya, aktivitas ini cukup berbeda saat masih tinggal pada rumah lama. Sebelum pindah ke huntap, ia tidak perlu mengeluarkan uang bensin untuk mencari rumput. Saat ini setiap harinya yang harus merogoh uang Rp10 ribu untuk jatah membeli bensin.

“Tanah lama kita hanya tertanami tanaman tahunan, maksimal untuk rerumputan. Tidak mungkin menggarap tanah lama karena jarak jauh. Akses lumayan parah karena gunakan (lalu lalang) tambang,” katanya.

Meski awalnya menolak tinggal pada huntap, saat ini Raymon mengaku tidak ingin kembali ke tanah lamanya, ancaman Gunung Merapi masih membuatnya khawatir.